fbpx

3 hal sensitif tentang persiapan pernikahan

3 Hal Sensitif tentang persiapan pernikahan yang sebaiknya anda ketahui

Persiapan pernikahan yang biasanya direncanakan jauh jauh hari tentu bukan perkara yang mudah. Apalagi di tengah kesibukan sehari-hari masing-masing calon pengantin pria maupun pengantin wanita. Belum lagi harus mengalokasikan waktu untuk bertemu vendor dari catering, venue hingga ke undangan, dekorasi , dan souvenir pernikahan juga. Dalam perjalanan itu , biasanya seringkali terjadi beberapa hal yang tidak mencapai persamaan persepsi. Misal pengantin pria maunya dekornya lebih simple dan minimalis dan pengantin wanita maunya lebih ramai atau bertema berbeda. Beberapa perbedaan tersebut bisa memicu banyak persoalan, bahkan hingga pembatalan pernikahan di tengah persiapan pernikahan itu sendiri. Didukung juga kalau keduanya lagi kelelahan karena rutinitas kerja masing-masing ataupun sudah cukup disibukkan dengan persoalan pribadi masing-masing.

ada beberapa hal sensitif yang sebaiknya dibahas hanya berdua saja untuk mencari solusi. Bilamana sangat diperlukan maka libatkanlah mediator/penengah yang dapat dipercaya semisal teman yang dikenal keduanya. Sebisa mungkin mediator haruslah orang yang dipandang netral dan cukup bijak dalam memberikan pendapat yang asertif, bukan subjektif. Bisa jadi saudara, namun sebaiknya tidak melibatkan orang tua yang kemungkinan besar pandangannya dapat cenderung lebih subjektif. Berikut beberapa hal sensitif dalam persiapan pernikahan yang sebaiknya dibahas hanya bersama pasangan dan juga beberapa tips untuk mengatasinya

Pertengkaran kecil yang menjadi besar

tidak dapat dipungkiri pertengkaran kecil sering terjadi di masa pacaran, dan itu kembali lagi ke pasangan tersebut. Bagaimana dia mengatasi pertengkaran kecil itu. apakah salah satunya mau mengalah. Ataukah mungkin kedua-duanya bersikap dewasa dan menemukan jalan tengah. atau tidak menemukan titik temu sama sekali dan kemudian putus. Hal tersebut berlaku juga di tahap persiapan pernikahan. Tahukah anda walau sudah di tahap persiapan pernikahan statusnya tetap masih pacaran, so pacaran it is ! Namun lebih intense aja karena kali ini outcomes pacarannya kan sambil mempersiapkan pernikahan.

Sepanjang kita berbisnis souvenir pernikahan, saya sudah menemui banyak sekali pasangan pengantin. Saya juga sudah berbagi pandangan dengan banyak pengantin, beberapa hal yang saya dapat dari sharing pendapat dengan mereka. Pada dasarnya konflik yang menimbulkan pertengkaran kecil itu berasal dari tidak bertemunya ekspektasi keduanya. Untuk itu calon pengantin pria maupun wanita harus memiliki goal yang sama, tujuan yang sama. Dan membangun persepsi yang sama jauh sebelum persiapan pernikahan itu dimulai. Saya menyukai buku Saving Your Marriage Before It Starts by Les Parrott. apabila anda penyuka buku dapat menjadikan buku ini sebagai referensi untuk penambah wawasan. Apabila anda mengalami pertengkaran kecil dalam rencana anda mempersiapkan pernikahan, sebaiknya anda tanyakan kepada diri sendiri goal bersama anda berdua. Saya akan sajikan cerita tentang salah satu pasangan pengantin.

Saya menyukai buku Saving Your Marriage Before It Starts by Les Parrott. apabila anda penyuka buku dapat menjadikan buku ini sebagai referensi untuk penambah wawasan. Apabila anda mengalami pertengkaran kecil dalam rencana anda mempersiapkan pernikahan, sebaiknya anda tanyakan kepada diri sendiri goal bersama anda berdua. Saya akan sajikan cerita tentang salah satu pasangan pengantin.

Sebuah cerita

Budi dan Ria (bukan nama sebenarnya) . Budi ini ternyata pekerja kantoran yang sibuk sekali, sementara Ria adalah seorang pns di salah satu instansi di kementrian kesehatan. Biasanya sepulang kerja Budi menjemput Ria jam 5.30, namun karena satu hal dia baru bisa menjemput Ria di jam 7.00. Nah karena sibuk Budi nya lupa ngabarin bakal lebih malam. Tanpa terasa kesibukannya membuat dia tidak sadar eh udah jam 6an aja. Nah dari situlah hal-hal kecil dan sepele ini akhirnya menimbulkan pertengkaran kecil. Ada banyak skema/versi yang berkecamuk di kepala mereka masing-masing. Seperti Ria berpikir, wah si budi ini bikin saya menunggu lama , lebih mementingkan pekerjaan. Jangan-jangan lagi kumpul sama teman kantornya jadi lupa jemput saya.

Kesalahpahaman kecil

Nah si Budi merasa bersalah, jadi tetap datang jemput juga, walau akhirnya dimanyunin. Hal tersebut kan terasa sepele, namun dalam hati Budi di tengah rasa bersalahnya juga berpikir bahwa kok Ria tidak bisa mengerti yaa, Udah minta maaf dan tetap dijemput kok ga dimaklumi yaa, dan lain lain sebagainya. Atau mungkin anda sering nonton standup comedy raditya dika tentang pacaran dimana si cewe bilang a namun maunya b, namun si cowo berpikir si cewe maunya memang a.

Menyikapi dengan dewasa

sekian adalah cerita singkat walaupun mereka membagikan banyak kisah kepada saya, namun dari peristiwa kecil itu akhirnya mereka seringkali menjadi saling curigaan, saling ngambekan yang akhirya menyulut ke persoalan lebih besar “apakah masih mau lanjutkan pernikahan ini ? “. Mereka menyikapi dengan dewasa dan akhirnya Budi mengajak Ria berbicara lebih intens karena mereka akan menyiapkan pernikahan. dan dari situlah ditumpahkan apa yang sebenarnya memicu mereka sering bertengkar kecil dan mereka membuat rules atau aturan untuk berdua supaya keduanya bisa saling mengerti, misalnya kalau telat jemput atau tidak bisa jemput harus kabarin 30 menit sebelumnya biar ga nungguin, atau kalau misal Ria pulang awal mau naik gojek dulu bilang supaya Budi tidak harus pergi jemput. Solusinya terasa simpel, namun prosesnya itu tidak semudah yang diceritakan. Semenjak itu mereka jadi lebih mengerti satu sama lain.

Konsesi bersama

Apa yang menarik dari kisah mereka adalah bahwa mereka tidak mau membawa hal ini kepada orang tua, istilahnya ngadu. mereka berdua sadar bahwa mereka adalah manusia dewasa yang bisa menentukan hidup masing-masing, jadi mereka menyelesaikannya dengan bicara dari hati-ke hati bukan dengan mengadu yang mana nantinya bisa berakibat runyam seperti orang tua yang merasa anaknya tidak diperhatian dengan baik oleh calon menantunya. nanti calon mertuanya sentimen lagi dengan menantunya atau sebaliknya hehehe. walaupun tidak semua orang tua demikian sih, ini hanyalah salah satu gambaran bahwa beberapa hal itu sebaiknya diselesaikan berdua saja.

Finansial / Keuangan

Keuangan merupakah salah satu kunci dalam persiapan pernikahan, karena pesta pernikahan membutuhkan biaya. Entah sedikit, entah banyak, namun pasti diperlukan. karena pesta pernikahan menyangkut banyak pihak dan banyak vendor pernikahan dalam persiapannya. Saya percaya dengan proses. Persiapan pernikahan adalah proses, dan dari proses tersebutlah akan menggambarkan bagaimana anda merancang keluarga atau masa depan anda. Sama halnya dengan bagaimana anda ingin merencanakan tujuan pernikahan anda. Sebagai orang dewasa yang memutuskan untuk menikah, anda harus mulai terbiasa membahas soal keuangan bersama pasangan anda. Karena hal tersebut menentukan keberlangsungan suatu keluarga. Rasanya tidak bijak apabila keuangan masih disokong oleh keluarga sehingga apabila ada masalah keuangan melibatkan orang tua. Sebagai orang yang dewasa yang sudah berpenghasilan, dan juga mampu untuk membangun keluarga. Hendaknya segala keputusan keuangan diputuskan secara bersama sama. terutama dalam hal ini adalah budgeting atau alokasi pengeluaran / anggaran pernikahan .

Ada banyak strategi, anda bisa mulai membuat tabungan pernikahan/ tabungan bersama. Atau anda sudah mengalokasikan berapa yang akan dikeluarkan untuk pesta pernikahan. Jangan sampai nanti ada ketidak seimbangan dari segi kemampuan keuangan dengan budgeting atau pendanaan. Misalnya budget 300juta, namun anda hanya mempunyai kesanggupan 200juta, 100jutanya berasal darimana ? pinjaman kah, atau penjualan asset kah, atau pengunaan deposito dsb. Intinya adalah sebaikanya masalah sensitif seperti keuangan hendaknya hanya dibahas berdua saja. Karena yang benar-benar tahu kemampuan keuangan atau ekonomi adalah diri sendiri, cuma untuk pernikahan anda tidak sendiri, anda berdua. Karena ketika menikah, harta menjadi harta bersama ( untuk anda yang tidak pisah harta). Sehingga perencanakan keuangan menjadi faktor yang krusial untuk hanya dibahas oleh kedua calon pengantin saja.

Seperti misalnya pemesanan souvenir pernikahan, bisa saja kan di awal keputusan keduanya budgetin Rp. 3.000.000. Eh ternyata setelah dilihat-lihat, nambah Rp. 200.000 lagi bisa dapat souvenir pernikahan yang lebih sreg atau lebih worthy. Karena lagi ada promo diskon untuk souvenir pernikahan yang diinginkan tersebut. Hal ini juga salah satu bentuk kecil dari perencanaan pengeluaran yang matang. Karena anda tahu betul seberapa besar budget yang masih bisa di alokasikan ataupun kapan sebaiknya menambah budget untuk souvenir pernikahan.

Masa lalu pasangan anda

Percaya tidak percaya, banyak yang berkata yang sudah berlalu biarkanlah berlalu. Tapi hidup tidak semudah kata-kata bukan ? beberapa hal soal masa lalu yang sensitif untuk dibahas dan sifatnya privasi dan sebaiknya tidak dibahas diluar

Kalau anda membahas cerita masa lalu pasangan anda dengan teman anda. Bisa jadi teman anda malah memandang dengan cara pandang lain dan cenderung dapat memudarkan penilaian anda sendiri. Contohnya tentang mantan dari calon istri anda, hal tersebut sebaiknya tidak dibahas dengan teman. Karena hal tersebut topik yang sensitif dan sebaiknya dibahas diantara pasangan itu saja. Karena hanya kalian berdua yang tahu dan bisa memberi arti tentang masa lalu pasangan anda. . Apalagi kalau teman anda ternyata mengenal si mantan.

Karena hal tersebut dapat mempengaruhi penilaian maupun pandangan orang lain, terutama orang-orang yang anda ceritakan hal tersebut.

^_^ sebenarnya masih banyak hal sekali yang mau disharing soal ini. Namun sepertinya 3 hal diatas cukup menambah wawasan untuk persiapan pernikahan. Semoga bermanfaat

Bie Bie Souvenir & Gifts

Tag

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat